Kamis, 28 Mei 2009

Manifesto HT Upaya Menyelamatkan Indonesia dari Keterpurukan

http://4.bp.blogspot.com/_nTuxMpRj0VU/SKn-1ThTWaI/AAAAAAAAAHo/ZQfeMdut3sU/s400/dominate+of+islam.jpg

Wawancara Eksklusif:

Muhammad Ismail Yusanto, Jubir Hizbut Tahrir Indonesia |

Pada 21 Mei lalu HTI meluncurkan buku Manifesto Hizbut Tahrir untuk Indonesia: Indonesia, Khilafah, dan Penyatuan Kembali Dunia Islam di Wisma Antara Jakarta. Terkait dengan itu maka wartawan mediaumat.com Joko Prasetyo mewawancarai Jubir HTI Muhammad Ismail Yusanto. Berikut petikannya.

Apa latar belakang penerbitan Manifesto yang baru diluncurkan di penghujung Mei ini?

Selama ini umat secara umum sudah mengetahui gagasan syariah dan khilafah. Namun belum banyak orang mengetahui secara persis. Manifesto ini disusun untuk memberikan gambaran secara ringkas mengenai pokok-pokok fikiran HT tentang beberapa hal penting yang menyangkut penataan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Seperti soal politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, komunikasi, pergaulan pria dan wanita, politik luar negeri dan lain sebagainya. Nah, harapannya dengan membaca Manifesto itu umat menjadi tahu apa yang dimaksud oleh HT selama ini.

Tawaran jalan baru apa yang ditawarkan HT dalam Manifesto tersebut?

Kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang islami. Sudah terbukti jalan lama ini telah gagal membawa masyarakat mencapai cita-citanya. Dengan begitu harapannya adalah masyarakat menjadi tahu, kalau ingin besar, membawa negara ini ke arah yang lebih baik, tidak bisa tidak, memang harus menempuh jalan baru yang islami dan tidak lagi menggunakan jalan lama yang sekuler dan bercorak kapitalistik seperti yang berlangsung selama ini.

Apa keunggulan jalan baru yang ditawarkan dalam Manifesto itu?

Yang utama dalam Manifesto ini adalah kumpulan gagasan-gagasan pokok yang ditulis secara ringkas dan berdasarkan prinsip akidah Islam. Itulah yang membedakan sekaligus menjadi keunggulan dari konsepsi lainnya yang masih menempuh jalan lama karena masih bersifat sekularistik.

Manifesto ini bertumpu pada akidah Islam dan bersumber dari syariah Islam. Jadi kalau Manifseto ini ditelusur maka akan jelas sekali pijakan hukum syaranya. Konsepsi yang berdasarkan syariah ini jelas memiliki keunggulan dibandingkan dengan yang sekuler. Karena yang sekuler tersebut kalau tidak bersifat kapitalistik ya bersifat sosialistik dan sudah pasti mengandung kelemahan-kelemahan karena aturan yang lahir tidak berdasarkan wahyu dari Allah SWT. Sedangkan yang bersifat syar’i bersumber dari wahyu Allah Yang Maha Tahu untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sehingga bila aturan ini dijalankan, insya Allah, penuh keberkahan dan kebahagiaan dunia dan akhirat karena dijalankan sesuai dengan misi penciptaan manusia yakni untuk beribadah kepada Allah SWT.

Di awal Anda mengatakan beberapa pokok hal penting berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Diantaranya adalah ekonomi dan politik. Tolong dijelaskan secara ringkas?

Persoalan utama dalam ekonomi itu sebenarnya bukan masalah produksi tetapi masalah distribusi. Pertumbuhan itu pasti. Tetapi bila tidak dibarengi dengan distribusi yang baik maka pertumbuhan yang ada itu tidak dapat dinikmati oleh seluruh anggota masyarakat. Maka akan terjadi ketimpangan sebagaimana yang terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini.

Pola distribusi yang dimaksud dalam Manifesto itu ialah distribusi yang bersumber dari syariah. Intinya itu ada dua yakni pola distribusi ekonomi dan pola distribusi non ekonomi. Dalam pola distribusi ekonomi syariah telah mengatur sedemikan rupa sehingga tidak ada pihak yang menzalimi dan dizalimi. Serta diberikan sanksi yang tegas bagi yang coba-coba berbuat zalim. Sedangkan dalam pola distribusi non ekonomi syariah mempunyai instrumen seperti zakat, shadaqah, hibah dan santunan dari negara.

Selain itu, Islam pun mempunyai konsepsi terkait dengan pertumbuhan ekonomi. Bukan pertumbuhan-pertumbuhan yang semu seperti yang berlangsung saat ini yang bertumpu pada sektor non riil. Dalam Islam tentu saja yang dikembangkan adalah sektor riil. Maka sektor non riil tidak diberi tempat dalam sistem ekonomi Islam apalagi yang berbasis bunga/riba, dan judi. Sehingga akan tercipta perekonomian yang stabil dan adil yang tidak mengenal istilah krisis moneter.

Kalau masalah Politik?

Dalam politik Islam sistem pemerintahannya tentu saja khilafah. Khilafah tidak sama dengan sistem diktator, tapi juga bukan sistem demokrasi. Yang membedakan khilafah dari kedua sistem tersebut adalah kedaulatan atau hak untuk menetapkan hukum, yang menentukan benar dan salah, yang menentukan halal dan haram ada di tangan syariah bukan di tangan manusia. Karena itu, baik khalifah maupun umat, sama-sama terikat kepada syariah Islam. Khalifah wajib menerapkan syariah Islam dengan benar sesuai dengan ketetapan Allah dalam Alquran dan Sunnah, tidak boleh semaunya khalifah.

Khalifah pun berkewajiban menghimpun seluruh warga negara, tanpa melihat perbedaan agama, mazhab, jenis kelamin, bahasa maupun ras. Berkewajiban pula untuk menyatukan kembali seluruh Dunia Islam menjadi negara yang paling kuat di dunia, yang dilakukan melalui sebuah kebijakan yang progresif serta usaha pembebasan negeri-negeri Muslim yang terjajah.

Apa langkah selanjutnya yang akan dilakukan HTI setelah peluncuran Manifesto ini?

Tahap pertama kita juga akan mengupas tuntas Manifesto di berbagai daerah di Indonesia. Rencananya pada tanggal 13 Juni ini saya dijadwalkan di Malang. Insya Allah, kemudian akan menyusul di daerah-daerah lain.

Tahap kedua, tentu kita akan mengkomunikasikan dengan berbagai fihak terkait. Seperti DPR, calon presiden, dan lain sebagainya.

Sebagai penutup, mengapa HT menawarkan Manifesto?

Ini sebagai salah satu bentuk upaya dari HT untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan akibat diterapkannya sistem yang sekularistik. Jadi kalau ada fihak-fihak tertentu yang memfitnah dengan mengatakan bahwa Hizbut Tahrir itu mengancam Indonesia jelas itu kebohongan besar. Bagaimana bisa disebut membahayakan karena Hizbut Tahrir justru berjuang untuk menyelamatkan negeri, yang mayoritas Muslim, ini dengan penerapan syariah dan khilafah. Karena memang mustahil kapitalisme dan sosialisme dapat menyelamatkan bangsa ini di dunia, apalagi di akhirat kelak. Jadi bukan Hizbut Tahrir atau kelompok lainnya yang berjuang untuk menerapkan syariah dan khilafah yang berbahaya itu tetapi fihak yang bersikukuh memepertahankan sekularisme.

Karena Indonesia bisa terpuruk seperti ini kan akibat diterapkannya sekularisme bukan syariah Islam lho! Bila dicermati, mereka-mereka yang anti terhadap syariah inilah sebetulnya yang terus-menerus mempertahankan bangsa ini dalam keterpurukkannya. Jadi orang-orang yang seperti itulah yang sudah seharusnya dilawan karena memang membahayakan dan mengancam bangsa Indonesia.[] mediaumat.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar