Kamis, 28 Mei 2009

Wapadai Iklan Politik Pilpres 2009

Jelas sudah pasangan calon pasangan pemimpin Indonesia yang akan bertarung pada Pilpres 9 Juli mendatang. KPU akhirnya menetapkan 3 pasang capres (calon presiden) dan cawapres (calon wakil presiden) setelah masyarakat selama ini dibuat bertanya tentang siapa sebetulnya yang akan berpasangan pada pilpres mendatang. 3 pasangan ini pun lahir dari hasil pertunjukan politik yang tampak begitu menyita perhatian masyarakat dengan berbagai aksi para politisi dalam upaya menentukan pasangan capres dan cawapres ini.

Takdir sejarah yang akhirnya membawa 3 pasangan , yakni Susilo Bambang Yudhoyono-Budiono (SBY Berbudi Luhur), Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win) dan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto (Mega-Pro) harus maju mengadu peruntungan demi menggapai kursi R1 dan R2 di negeri ini. Pasca penetapan pasangan oleh KPU diikuti oleh deklarasai masing-masing pasangan dan pembentukan tim sukses pemenangan masing-masing pasangan maka langkah selanjutnya adalah memulai kerja keras untuk dapat mempengaruhi dan mengambil hati ratusan juta calon pemilih.

Masing-masing pasangan capres-cawapres pun mulai menyapa masyarakat lewat iklan politiknya baik melalui media cetak maupun elektronik demi untuk menggaet simpati calon pemilih. Melalui tim suksesnya masing-masing, para pasangan capres-cawapres dengan berbagai macam gaya dan bahasa mulai merangkai kata, mengelola fenomena dan mencipta asa seolah akan sangat mudahnya tercipta di depan mata. Di sini nampaklah jelas betapa bahasa iklan benar-benar digunakan layaknya mempromosikan produk makanan atau barang elektronik. Bahkan, etika periklanan yang melarang menjelekkan produk orang lain (walau secara tidak langsung) sudah mulai tampak dari iklan salah satu calon pasangan capres-cawapres.

Inilah realita sebuah iklan politik untuk pilpres saat ini. Seluruh isinya begitu mempesona, dan spektakuler. Janji-janji politik yang dilontarkannya pun tampak begitu meyakinkan, seolah seluruh program yang diajukan takkan gagal. Seperti layaknya iklan pada umumnya program mereka nyaris tampak cela dan hanya dihiasi oleh keindahan dan kesejahteraan masa depan. Seandainya saja mereka berkata bukan atas nama iklan, maka betapa bangganya kita memiliki calon-calon pemimpin masa depan yang tampak begitu perhatian terhadap kesejahteraan rakyat, keberpihakan pada rakyat kecil, pembangunan menyeluruh, mengentaskan kemiskinan dan penciptaan stabilitas keamanan.

Sekali lagi ini hanya sebuah iklan. Dan iklan memiliki misi untuk dapat mempengaruhi orang agar mau memilih produknya. Ketika sesuatu yang begitu urgen (penting) untuk sebuah kemashlahatan bangsa dikemas dalam bingkai sebuah iklan, maka kita harus betul-betul dapat menyikapinya secara bijak dan tepat. Kita tidak ingin sebuah janji politik hanya sekedar dijadikan sebagai gerbang meraih kekuasaan, yang setelah digapai janjipun hanya sekedar masa lalu politik. Dengan demikian, ketika kita menerima sebuah iklan politik (siapapun pasangannya) hendaknya tidak menelan bulat begitu saja, tapi lengkapilah dengan referensi lengkap mengenai semua yang berkaitan dengan calon pemimpin kita. Ini kita lakukan agar kita tidak menjadi korban iklan politik untuk kesekian kalinya. Wallahu A’lam.

Sumber: zainkalami.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar