Tampilkan postingan dengan label pilpres. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pilpres. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2009

Umat Indonesia Membutuhkan Ulama Akhirat

Pemilihan Presiden dan Wapres (Pilpres) 2009 akan digelar tidak lama lagi setelah pengumuman tiga pasangan capres-cawapres dalam beberapa pekan terakhir. Berbagai strategi dan cara digelar untuk meraih kemenangan. Yang menarik, setiap pasangan capres-cawapres merasakan kebutuhan dukungan dari ‘penguasa non-formal’ yang ada di tengah-tengah masyarakat. Mereka adalah para ulama, kiai, tuan guru, tengku dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh. Setiap menjelang Pemilu, termasuk Pilpres kali ini, mereka sering kedatangan tamu tim sukses pasangan capres-cawapres, atau bahkan langsung pasangan capres-cawapresnya.

Di sisi lain, ada sebagian orang dengan julukan kiai atau ulama bertandang ke kediaman pasangan capres-cawapres. Ada pula yang bertemu di luar ‘kandang’ masing-masing dengan cara menggelar satu acara atau agenda yang bertajuk ‘keumatan’. Pada pertemuan-pertemuan tidak resmi di tengah-tengah jamaah para kiai/ulama tidak jarang “pesanan politik” juga disampaikan. Targetnya tentu saja adalah menjajaki dukungan para tokoh umat ini, dan tentu dengan kompensasi.

Akibat dukung-mendukung capres-cawapres ini, tidak jarang hubungan silaturahmi menjadi renggang hanya karena masing-masing berbeda visi dan dukungan politiknya. Masing-masing pasangan saling mengklaim bahwa mereka pro-rakyat, sementara pasangan lain pro-asing (dengan julukan neoliberal). Padahal sebenarnya semua pasangan adalah pengusung liberalisme, hanya dengan kadar yang berbeda-beda. Ini adalah fakta yang tentu sangat memprihatinkan. Umat menjadi bingung dengan arah politik para ulama dan kiai mereka. Pasalnya, masing-masing kiai/ulama memiliki tujuan politik yang semuanya bisa dikemas dengan bungkus dalil agama. Sebagian kiai/ulama itu seolah menjadi makelar dagangan yang bernama “tahta”. Mereka mengabaikan fungsi, tugas dan tanggung jawab yang sesungguhnya dalam kehidupan sosial-politik.

Lantas apakah yang perlu direnungkan oleh ulama dan umatnya terkait dengan pemilihan pemimpin saat ini? Bagaimana tanggung jawab ulama dalam kehidupan politik dan bernegara? Sejauh mana peran dan fungsi ulama dalam proses perubahan menuju Indonesia yang bersyariah, yang baldat[un] thayyibat[un] warabb[un] ghafûr?

Sekularisme: Ancaman Terbesar

Peran ulama sepanjang masa kehidupan kaum Muslim, khususnya dalam kehidupan politik, sangatlah penting. Bahkan pada masa-masa kemunduran umat Islam sekalipun, peran penting ulama dalam kehidupan politik tetap tidak tergantikan. Pasalnya, Islam memang tidak memisahkan antara kehidupan politik dan spiritual, bahkan saat umat jatuh dalam kubangan sekularisme (yang menjauhkan agama dari urusan sosial-politik-kenegaraan) saat ini, yang berdampak pada terpinggirkannya para ulama. Ulama masih memiliki tempat tersendiri dalam pribadi umat dengan berbagai alasan. Karena itu, para penguasa atau calon penguasa selalu berusaha untuk meraih dukungan mereka.

Di sisi lain, ada sebagian kiai/ulama yang merespon persoalan politik kekinian (seperti Pilpres 2009) dengan memberikan panduan kepada umatnya. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi, misalnya, menyatakan bahwa pemimpin kaum Nahdliyyin memberikan dua syarat untuk calon presiden mendatang. Menurutnya, syarat pertama, calon presiden itu harus menyelamatkan agama, dan syarat kedua, calon presiden tidak membawa agenda neoliberalisme.

Pandangan dan sikap yang disampaikan oleh KH Hasyim Muzadi sebagai pimpinan kaum Nahdliyyin ini sangatlah penting untuk memberikan wawasan kepada jamaahnya agar di Pilpres bulan Juli nanti mereka tidak salah memilih (Eramuslim.com).

Sayang, pandangan dan sikap ini tidak menyentuh “sistem politik” yang tegak saat ini. Padahal menyelamatkan agama sejatinya adalah dengan menegakkan akidah dan syariah Islam dalam semua aspek kehidupan mereka, baik di ranah pribadi maupun ranah sosial-politik-kenegaraan. Semua ini tentu tidak bisa diwujudkan dalam sistem politk sekular saat ini. Sebaliknya, keselamatan agama menuntut adanya institusi negara yang menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan.

Lagipula, masalah kepemimpinan sesungguhnya terkait dengan dua faktor: sosok pemimpin dan sistem kepemimpinan yang digunakannya. Jika panduan untuk memilih pemimpin ini hanya terkait dengan sosok pemimpinnya saja, tentu hal demikian telah mengabaikan sama sekali sistemnya (yakni sistem sekular) yang justru gagal menyelamatkan agama dari pengebirian perannya sekadar sebatas penjaga moral belaka. Dalam sistem sekular saat ini, peran agama sebagai solusi atas seluruh problem kehidupan malah disingkirkan jauh-jauh. Sistem sekular ini pun sekaligus menjadi payung bagi tegaknya neoliberalisme/liberalisme dalam berbagai aspek kehidupan umat.

Karena itu, kesadaran akan bahaya sekularisme ini harus ada di benak para ulama. Singkat kata, ulama harus mulai menyadari bahwa sistem sekular inilah yang harus terlebih dulu disingkirkan dan digantikan dengan sistem Islam, yakni sistem yang menegakkan syariah Islam, sebelum umat ini benar-benar diarahkan untuk memilih pemimpinnya. Jika hal ini tidak dilakukan, siapapun pemimpin yang terpilih, yakinlah, mereka hanya akan semakin mengokohkan sistem sekular ini. Akibatnya, harapan untuk menyelamatkan agama sekaligus menjauhkan neoliberalisme akan menjadi tinggal harapan, tidak akan pernah mewujud dalam kenyataan. Pasalnya, justru sekularismelah ancaman yang sebenarnya terhadap keselamatan agama, dan sekularisme pula yang sekaligus menjadi pintu yang sangat lebar bagi masuknya neoliberalisme.

Peran dan Tanggung Jawab Ulama

Ulama adalah pewaris para nabi. Apa yang diwariskan oleh para nabi tentu tidak akan digadaikan dengan apapun, meski dengan seluruh isi bumi dan langit ini. Tentu karena para ulama adalah orang-orang yang memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Atas dasar iman dan ilmunya, ulama akan senantiasa berjuang membimbing umat untuk senantiasa hanya menghamba kepada Allah SWT secara total. Penghambaan secara total itu harus dibuktikan dengan cara menjalani dan menata hidup ini sesuai dan tuntunan (baca: syariah Islam) yang dibawa oleh Rasulullah saw., baik dalam kehidupan politik maupun spiritual, seraya berharap keridhaan Allah SWT sebagai tujuan paling puncak.

Karenanya, ulama harus menjadi penyambung lidah umat di hadapan para penguasa. Ulama harus menjadi pembimbing mereka menuju kepemimpinan yang mulia dengan Islam. Sebab, mereka semua adalah hamba-hamba Allah SWT yang juga merindukan surga.

Namun demikian, fungsi ulama akan pudar dan tertutup dengan sikap dukung-mendukung calon pemimpin tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara syar’i. Selain itu, dukungan ulama sejatinya hanya diberikan kepada mereka yang mau menegakkan akidah dan syariah Islam secara kâffah, bukan kepada mereka yang akan melanggengkan sekularisme yang nyata-nyata selalu menjadi ancaman bagi keselamatan agama dan menjadi pintu masuk bagi bercokolnya neoliberalisme.

Di sisi lain, para pemimpin atau calon pemimpin harus dekat dengan ulama semata-mata demi meminta bimbingan menuju ridha Allah SWT, dan bukan demi ‘membeli’ ulama sekadar untuk meraih atau melanggengkan kekuasaan.

Umat hari ini merindukan sosok ulama yang ikhlas berjuang dengan pengorbanan maksimal agar bisa mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliah modern, derita dan nestapa dalam kerangkeng sistem sekular-liberal; menuju cahaya Islam dalam wujud masyarakat dan negara yang bersyariah, yang berjalan di atas hidayah Islam. Itulah masyarakat dan negara yang pernah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw. dan dilanjutkan oleh para khalifah beliau.

Sifat-sifat Ulama

Karena itu, ulama harus memiliki sejumlah sifat dan karakter khas, antara lain: Pertama, senantiasa berzikir kepada Allah dalam semua keadaan. Allah SWT berfirman:

]الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ[

Mereka adalah orang-orang yang selalu mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadan berbaring (QS Ali Imran [3]: 191).

Kedua, menjauhi penghambaan kepada thâghût. Allah SWT berfirman:

]وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا[

Mereka adalah orang-orang yang menjauhi thâghût, yaitu tidak menghambakan diri kepadanya (QS az-Zumar [39]: 17).

Ketiga, senantiasa bertobat (kembali) kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:

]وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ[

Mereka senantiasa kembali kepada Allah (QS az-Zumar [39]: 17).

Keempat, selalu menghubungkan apa saja yang diperintahkan oleh Allah untuk dihubungkan seperti silaturahmi, loyal kepada sesama Mukmin, mengimani semua nabi dan menjaga semua hak manusia. Allah SWT berfirman:

]وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ[

Mereka adalah orang-orang yang senantiasa menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan untuk dihubungkan (QS ar-Ra’d [13]: 21).

Seorang ulama pasti lebih suka berdekatan dengan seorang Muslim yang taat daripada dengan mereka yang selalu memusuhi umat Islam. Ulama pun akan menjadi perekat umat, pionir ukhuwah islamiyah, dan tidak mungkin menjadi pemecah-belah umat.

Kelima, memiliki rasa takut kepada Allah dan keagungan-Nya, sebagaimana firman-Nya:

]وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ[

Mereka selalu takut kepada Tuhannya (QS ar-Ra’d [13]: 21).

Ulama hakiki akan memiliki rasa takut yang luar biasa kepada Allah. Dia akan lebih mudah menangis daripada tertawa terbahak-bahak. Tampak keanggunan dan kewibawaannya karena kekhusyukan yang memancar dalam dirinya.

Keenam, takut terhadap keburukan Hari Penghisaban, sebagaimana firman-Nya:

]وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ[

Mereka senantiasa takut pada hisab yang buruk (QS ar-Ra’d [13]: 21).

Rasa takut ini tercermin dalam ucapan dan semua perbuatannya untuk selalu menjauhi semua larangan Allah.

Ketujuh, memiliki kesabaran dalam menghadapi semua beban, kesulitan dan musibah di dunia serta senantiasa menentang kehendak hawa nafsu. Allah SWT berfirman:

]وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ[

Mereka adalah orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya (QS ar-Ra’d [13]: 22).

Semua perintah Allah adalah kewajiban dan beban yang harus dilaksanakan dengan penuh kesabaran. Demikian juga dengan musibah.

Umat Membutuhkan ’Ulama Akhirat’

Sebagaimana dimaklumi, kewajiban terbesar umat Islam hari ini adalah mengembalikan kehidupan Islam di tengah-tengah masyarakat dengan menegakkan seluruh syariah Allah SWT. Sebaliknya, kemungkaran terbesar yang wajib ditumbangkan saat ini adalah sistem thâghût yang menerapkan hukum-hukum kufur buat manusia. Itulah sistem sekular yang tengah berlangsung saat ini.

Karena itu, saat ini umat benar-benar membutuhkan ’ulama akhirat’ yang bisa membimbing mereka untuk kembali pada Islam secara kâffah sambil terus-menerus memberikan dorongan dan dukungan terhadap perjuangan ke arah penegakkan syariah Islam. Umat membutuhkan ulama yang meneladani perjuangan Rasulullah saw. dalam mewujudkan masyarakat islami, yang menerapkan syariah Islam secara total dalam semua aspek kehidupan, dalam Daulah Khilafah. Hanya dengan itulah cita-cita umat mewujudkan baldat[un] thayyibat[un] warabb[un] ghafûr akan benar-benar terwujud, insya Allah.

Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.

SBY versus JK : Prosedural versus Kebutuhan

http://asruldinazis.files.wordpress.com/2009/05/sby-jk.jpg?w=400&h=156


Kepemimpinan yang diciptakan oleh kedua pemimpin bangsa saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Jusuf Kalla (JK) selama ini membuat rakyat sudah bisa menebak tipe kepemimpinan masing-masing. Perihal tersebut dapat dilihat dari sejumlah kebijakan yang digelontorkan maupun komentar-komentar yang disampaikan kepada masyarakat.

Saya mencoba menganalisis dari beberapa komentar-komentar yang disampaikan oleh kedua Presiden dan Wakil Presiden RI tersebut melalui kutipan-kutipan media cetak maupun media online. Dan hasilnya SBY cenderung memberikan kebijakan dan komentar yang procedural sedangkan JK selalu menjawab kebijakan pemerintah sesuai kebutuhan langsung apa yang dibutuhkan rakyat.

SBY :

“Setelah krisis yang insya Allah akan berakhir dua tahun lagi, bagaimana pun anggaran pertahanan harus kita tingkatkan,” disampaikan saat meresmikan Kompleks Rusun Dinas Paspampres di
Bojong Nangka, Kabupaten Bagor, Jawa Barat, Senin (25/5/2009). – detik.com-

Kebijakan anggaran alutsista bagi pasukan TNI Republik Indonesia akan ditingkatkan, namun ada prosedur yangterlebih dahulu dilewati, yaitu setelah krisis berakhir, bagaimana kalau krisis ekonomi ini tidak berakhir? berarti semakin banyak yang akan mati di udara yah.

JK :

“Jika saya tidak segera menyelesaikan konflik di Ambon dengan cepat, dalam 1 hari bisa 10 orang meninggal. Makanya harus cepat diselesaikan. Kalau pikir-pikir dulu, kalau rapat dulu yang lama, tiap rapat ada 10 orang meninggal,” disampaikan saat Pra Kongres Ikatan Pelajaran Nadlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nadlatul Ulama (IPPNU) Rabu (27/05/09) -detik.com-

Bagi JK, tidak perlu menunggu rapat yang lama melalui prosedur, namun harus langsung turun, memenuhi kebutuhan rakyat. Namun tetap butuh waktu kan pak JK untuk merumuskan strategi perdamaian itu kan?

Sebenarnya masih banyak kutipan-kutipan pernyataan dari SBY maupun JK yang mengidentikkan bagaimana beliau mengambil keputusan, tapi saya serahkan ke teman-teman saja mencarinya. Ini hanya pendapat pribadi melihat gelagat politik pemimpin kita dalam memimpin negara ini.

NB : Fakta menarik di search enginenya detik.com, ketika mengetikan nama “Susilo Bambang Yudhoyono” ditemukan hasil 1050, sedang ketika mengetikan nama “Jusuf Kalla” ditemukan 3875

Sumber: asruldinazis.wordpress.com

Kampanye Pemilihan Presiden dimulai 2 Juni

http://nababan.files.wordpress.com/2009/05/kampanye.jpg?w=300&h=200


Komisi Pemilihan Umum (KPU) kembali merubah jadwal masa kampanye menjadi 2 Juni-4 Juli 2009 mendatang. Padahal sebelumnya, KPU sempat menyebut akan memajukan masa kampanye 29 Mei-4 Juli 2009.

“Kampanye mulai 2 Juni- 4 Juli 2009. Deklarasi kampanye damai jam 9.00 di kantor KPU tanggal 2 Juni,” kata Anggota KPU, di sela Rapat Pleno di Kantor KPU, Jakarta, Rabu (27/5).

Siang ini, KPU tengah menggelar rapat pleno tertutup untuk membahas revisi Peraturan KPU nomor 32 tahun 2009 tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Pilpres. Menurut Putu, KPU memutuskan untuk merevisi sejumlah jadwal, termasuk, pelaksanaan kampanye. “Saat ini sedang disinkronisasi. Sore ini sudah bisa diteken. Jadwal kan diubah, saya kira sore ini pak Ketua sudah bisa teken,” tutur Putu.

Masa kampanye akan dibagi menjadi dua, yakni tanggal 2 Juni-12 Juni kampanye akan berkonsentrasi untuk diluar jenis pengerahan massa. “Kampanye lewat Media massa, pemasangan billboard, pemasangan alat peraga, dan sebagainya,” ujar Putu.

Sedangkan untuk pengerahan massa akan digelar tanggal 13 Juni-4 Juli. Dalam massa ini, kata Putu, kampanye dilakukan dalam 3 bentuk. Yakni, rapat umum, pertemuan terbatas, dan tatap muka. “Itu sudah disepakati oleh parpol dan pasangan Calon,” ujarnya.

Sumber:

Wapadai Iklan Politik Pilpres 2009

Jelas sudah pasangan calon pasangan pemimpin Indonesia yang akan bertarung pada Pilpres 9 Juli mendatang. KPU akhirnya menetapkan 3 pasang capres (calon presiden) dan cawapres (calon wakil presiden) setelah masyarakat selama ini dibuat bertanya tentang siapa sebetulnya yang akan berpasangan pada pilpres mendatang. 3 pasangan ini pun lahir dari hasil pertunjukan politik yang tampak begitu menyita perhatian masyarakat dengan berbagai aksi para politisi dalam upaya menentukan pasangan capres dan cawapres ini.

Takdir sejarah yang akhirnya membawa 3 pasangan , yakni Susilo Bambang Yudhoyono-Budiono (SBY Berbudi Luhur), Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win) dan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto (Mega-Pro) harus maju mengadu peruntungan demi menggapai kursi R1 dan R2 di negeri ini. Pasca penetapan pasangan oleh KPU diikuti oleh deklarasai masing-masing pasangan dan pembentukan tim sukses pemenangan masing-masing pasangan maka langkah selanjutnya adalah memulai kerja keras untuk dapat mempengaruhi dan mengambil hati ratusan juta calon pemilih.

Masing-masing pasangan capres-cawapres pun mulai menyapa masyarakat lewat iklan politiknya baik melalui media cetak maupun elektronik demi untuk menggaet simpati calon pemilih. Melalui tim suksesnya masing-masing, para pasangan capres-cawapres dengan berbagai macam gaya dan bahasa mulai merangkai kata, mengelola fenomena dan mencipta asa seolah akan sangat mudahnya tercipta di depan mata. Di sini nampaklah jelas betapa bahasa iklan benar-benar digunakan layaknya mempromosikan produk makanan atau barang elektronik. Bahkan, etika periklanan yang melarang menjelekkan produk orang lain (walau secara tidak langsung) sudah mulai tampak dari iklan salah satu calon pasangan capres-cawapres.

Inilah realita sebuah iklan politik untuk pilpres saat ini. Seluruh isinya begitu mempesona, dan spektakuler. Janji-janji politik yang dilontarkannya pun tampak begitu meyakinkan, seolah seluruh program yang diajukan takkan gagal. Seperti layaknya iklan pada umumnya program mereka nyaris tampak cela dan hanya dihiasi oleh keindahan dan kesejahteraan masa depan. Seandainya saja mereka berkata bukan atas nama iklan, maka betapa bangganya kita memiliki calon-calon pemimpin masa depan yang tampak begitu perhatian terhadap kesejahteraan rakyat, keberpihakan pada rakyat kecil, pembangunan menyeluruh, mengentaskan kemiskinan dan penciptaan stabilitas keamanan.

Sekali lagi ini hanya sebuah iklan. Dan iklan memiliki misi untuk dapat mempengaruhi orang agar mau memilih produknya. Ketika sesuatu yang begitu urgen (penting) untuk sebuah kemashlahatan bangsa dikemas dalam bingkai sebuah iklan, maka kita harus betul-betul dapat menyikapinya secara bijak dan tepat. Kita tidak ingin sebuah janji politik hanya sekedar dijadikan sebagai gerbang meraih kekuasaan, yang setelah digapai janjipun hanya sekedar masa lalu politik. Dengan demikian, ketika kita menerima sebuah iklan politik (siapapun pasangannya) hendaknya tidak menelan bulat begitu saja, tapi lengkapilah dengan referensi lengkap mengenai semua yang berkaitan dengan calon pemimpin kita. Ini kita lakukan agar kita tidak menjadi korban iklan politik untuk kesekian kalinya. Wallahu A’lam.

Sumber: zainkalami.wordpress.com

Tim Sukses Pemilu Presiden Bergaya Fir'aun

Musim kampanye Pemilu Presiden telah membuat tim sukses masing-masing pasangan calon berlaku takabur. Dukungan terhadap calon menyebabkan mata, telinga dan hati mereka tertutup. Mereka buta, tuli dan bebal dari segala informasi dan kebenaran. Inilah satu hal yang sangat saya khawatirkan. Karena hatinya bebal, mata dan telinganya tertutup dan menghalangi kebenaran yang hakiki.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan terhadap TV swasta Rabu 27 Mei 2009, tim sukses Mega-Prabowo, Permadi mengeluarkan statement yang sangat congkak. Saking angkuhnya statement-nya, saya menilai dia adalah orang pandir dan tolol yang mencoba meyakini orang lain padahal tidak ada ilmunya sama sekali. “Presiden harus kaya, karena kalau presiden miskin pasti akan korupsi, ya… pasti korupsi”. Mendengar ucapan ini hati saya bergetar. Seolah menyaksikan Fir’aun yang menyombongkan diri dihadapan Nabi Musa AS. Siapa Permadi, hingga mengucapkan kata-kata sesombong itu?

Saya tidak hendak menjelekkan atau menghina individu tersebut. Permadi sama dengan kita, yaitu manusia biasa yang terbatas, sangat terbatas. Pengetahuannya sangat sempit, hartanya juga sedikit, kekuatan fisik juga makin lemah karena tua rentah. Pada dasarnya Permadi adalah manusia biasa sama dengan kita-kita. Apakah dia istimewa? Tidak juga. Mengapa dia melontarkan kata-kata yang sangat congkak, seolah dirinya Tuhan yang tahu persis keadaan yang akan datang? itulah manusia yang terbatas ilmunya alias bodoh. Sama dengan bunyi pepatah tong kosong berbunyi nyaring

Kalau sekiranya ucapan ini dilakukan dengan kesadaran penuh, saya berharap dia segera bertaubat dan memohon ampunan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Tetapi kalau perkataan itu diucapkan dengan kesadaran penuh, maka biarlah Tuhan yang akan menghukum, dan cukuplah bagi kita memberikan peringatan dan nasehat. Semoga…

Sumber: jaiman1.wordpress.com

Tim Sukses Pemilu Presiden Bergaya Fir'aun

Musim kampanye Pemilu Presiden telah membuat tim sukses masing-masing pasangan calon berlaku takabur. Dukungan terhadap calon menyebabkan mata, telinga dan hati mereka tertutup. Mereka buta, tuli dan bebal dari segala informasi dan kebenaran. Inilah satu hal yang sangat saya khawatirkan. Karena hatinya bebal, mata dan telinganya tertutup dan menghalangi kebenaran yang hakiki.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan terhadap TV swasta Rabu 27 Mei 2009, tim sukses Mega-Prabowo, Permadi mengeluarkan statement yang sangat congkak. Saking angkuhnya statement-nya, saya menilai dia adalah orang pandir dan tolol yang mencoba meyakini orang lain padahal tidak ada ilmunya sama sekali. “Presiden harus kaya, karena kalau presiden miskin pasti akan korupsi, ya… pasti korupsi”. Mendengar ucapan ini hati saya bergetar. Seolah menyaksikan Fir’aun yang menyombongkan diri dihadapan Nabi Musa AS. Siapa Permadi, hingga mengucapkan kata-kata sesombong itu?

Saya tidak hendak menjelekkan atau menghina individu tersebut. Permadi sama dengan kita, yaitu manusia biasa yang terbatas, sangat terbatas. Pengetahuannya sangat sempit, hartanya juga sedikit, kekuatan fisik juga makin lemah karena tua rentah. Pada dasarnya Permadi adalah manusia biasa sama dengan kita-kita. Apakah dia istimewa? Tidak juga. Mengapa dia melontarkan kata-kata yang sangat congkak, seolah dirinya Tuhan yang tahu persis keadaan yang akan datang? itulah manusia yang terbatas ilmunya alias bodoh. Sama dengan bunyi pepatah tong kosong berbunyi nyaring

Kalau sekiranya ucapan ini dilakukan dengan kesadaran penuh, saya berharap dia segera bertaubat dan memohon ampunan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Tetapi kalau perkataan itu diucapkan dengan kesadaran penuh, maka biarlah Tuhan yang akan menghukum, dan cukuplah bagi kita memberikan peringatan dan nasehat. Semoga…

Sumber: jaiman1.wordpress.com

Seperti Apakah Presidenku Yang Terpilih ?

Pemimpin yang baik adalah pemimpin bias memahami karakteristik masyarakatnya, baik itu dari segi social, ekonomi hingga politik. Pemimpin Negara merupakan sesuatu hal yang patut semua Negara mempunyai seorang pemimpin bangsanya ( President).

Tetapi setiap pemimpin tentu mempunyai pola piker yang berbeda-beda, dari itu semua Negara pasti selalu adanya perubahan setiap waktunya, baik itu dari perekonomian Negara sampai permasalahan-permasalahan yang menyangkut permasalahan Negara itu tersebut. Dari itu pemimpin Negara har7us lebih baik…!!!!

Jadi seperti apakah pemimpin yang baik itu ??

Pemimpin Negara yang baik adalah pemimpin yang bijak.

Pemimpin Negara juga harus patut memiliki rasa sosial yang sangat tinggi, kenapa ?? Karena Presiden supaya bias memberikan sesuatu hal yang membuat rakyatnya merasa nyaman dan tidak di rugikan. Jika seorang presiden tidak memiliki rasa sosial yang tinggi…..Justru itu akan membuat rakyatnya merasa tidak cocok dengannya.

Sumber: trianugrah.wordpress.com

Pengaduan pemilu via SMS

Bawaslu buka layanan pengaduan DPS (Daftar Pemilih Sementara) Pilpres melalui SMS. Layanan pengaduan SMS ini diluncurkan guna mempercepat penanganan pengaduan dari pemilih yang belum tercantum di DPS.

Untuk mendaftarkan aduan, pemilih bisa langsung mengirim SMS dengan format:

DAF#NAMA#UMUR#ALAMAT#
KABUPATEN/KOTA#

cth: DAF#PAIJO#45#PUHPELEM#WONOGIRI#

Kirim ke:

08119880800

Setelah pesan masuk, SMS Centre Bawaslu akan melakukan konfirmasi dan memandu pengirim pesan untuk melaporkan aduannya.

Pengaduan yang dikirim masyarakat, selanjutnya akan diproses oleh SMS Centre Bawaslu. Semua SMS pengaduan seputar DPS yang masuk nantinya akan diteruskan oleh SMS Centre Bawaslu kepada anggota Panwaslu Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota, sesuai dengan alamat asal pengirim.

Layanan pengaduan SMS dari Bawaslu ini nantinya juga akan difungsikan untuk menampung berbagai pengaduan terkait pelanggaran kampanye Pilpres.

Partai Amanat Nasional Kalsel Dukung SBY

Banjarmasin , KP – Partai Amanat Nasional (PAN) Kalsel tetap solid mendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono pada Pemilihan Presiden (Pilpres) mendatang. “Kita solid mendukung pasangan SBY-Boediono, walaupun ada perbedaan dukungan kader PAN di Dewan Pimpinan Pusat (DPP),’’ kata Sekretaris DPW PAN Kalsel, Rakhmat Nopliardy kepada wartawan, Rabu (27/5), di Banjarmasin. Namun demikian, Rakhmat Nopliardy menilai perbedaan dukungan terhadap pasangan capres-cawapres selain pasangan SBY-Boediono cukup wajar, sebagai hak setiap anggota partai. “Anggota DPW maupun DPP PAN se Kalsel telah merapatkan barisan untuk mendukung SBY-Boediono, dan tidak ada suara lain,’’ ungkap Ketua Fraksi PAN DPRD Kalsel ini, yang dihubungi via telepon selular ini. Bahkan anggota Komisi IV DPRD Kalsel ini menjamin kondisi ini juga berlaku di daerah, yang satu suara mendukung pasangan SBY-Boediono. Menurut Rakhmat Nopliardy, DPW dan DPD se Kalsel sejak awal tidak pernah berubah mendukung capres dari Partai Demokrat tersebut, sesuai hasil Rapimnas yang ditandatangani Ketua DPP maupun Sekjen. “Kita telah dua kali rapat dengan DPD, dan hasilnya tetap sepakat mendukung pasangan SBY-Boediono,’’ ujar anggota dewan yang akan segera mengakhiri tugasnya sebagai anggota legislatif. Rakhmat Nopliardy menambahkan, kepengurusan PAN sendiri juga telah dibentuk tim pemenangan sendiri, selain yang dibentuk oleh tim dari koalisi, dan tim ini dinamakan Tim Pemenangan SBY-Boediono. Bahkan, Rakhmat Nopliardy menegaskan, kalau di Kalsel tidak ada pengurus yang berbeda dukungan. Artinya, semua pengurus DPW dan DPD PAN se Kalsel tidak berpaling terhadap capres SBY-Boediono. “Yang mana koalisi permanen juga sudah dilakukan oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) , Partai Persatuan Pembangunan (PPP), serta Partai Keadilan Sejahtera (PKS),’’ ujar Rakhmat Nopliardy. Sedangkan mengenai kader PAN, seperti Drajad Wibowo dan Alvin Lie, malah menyatakan dukungannya kepada pasangan JK-Wiranto. Rakhmat menerangkan, keduanya bukan anggota resmi JK-Wiranto meskipun jurkam. “Tetapi juga bukan tim sukses, melainkan mendukung secara pribadi saja,’’ tambah anggota DPRD Kalsel ini. Rakhmat Nopliardy juga mempersilakan anggota PAN memiliki hak untuk mendukung siapa saja, asalkan bukan dari pengurus maupun kepengurusan PAN. “Jika terjadi pembelotan, tentu akan dikenakan sanksi, yang sepenuhnya diserahkan kepada partai,’’ jelas Rakhmat Nopliardy. (lyn) PAN Kalsel Dukung SBY Banjarmasin , KP – Partai Amanat Nasional (PAN) Kalsel tetap solid mendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono pada Pemilihan Presiden (Pilpres) mendatang. “Kita solid mendukung pasangan SBY-Boediono, walaupun ada perbedaan dukungan kader PAN di Dewan Pimpinan Pusat (DPP),’’ kata Sekretaris DPW PAN Kalsel, Rakhmat Nopliardy kepada wartawan, Rabu (27/5), di Banjarmasin. Namun demikian, Rakhmat Nopliardy menilai perbedaan dukungan terhadap pasangan capres-cawapres selain pasangan SBY-Boediono cukup wajar, sebagai hak setiap anggota partai. “Anggota DPW maupun DPP PAN se Kalsel telah merapatkan barisan untuk mendukung SBY-Boediono, dan tidak ada suara lain,’’ ungkap Ketua Fraksi PAN DPRD Kalsel ini, yang dihubungi via telepon selular ini. Bahkan anggota Komisi IV DPRD Kalsel ini menjamin kondisi ini juga berlaku di daerah, yang satu suara mendukung pasangan SBY-Boediono. Menurut Rakhmat Nopliardy, DPW dan DPD se Kalsel sejak awal tidak pernah berubah mendukung capres dari Partai Demokrat tersebut, sesuai hasil Rapimnas yang ditandatangani Ketua DPP maupun Sekjen. “Kita telah dua kali rapat dengan DPD, dan hasilnya tetap sepakat mendukung pasangan SBY-Boediono,’’ ujar anggota dewan yang akan segera mengakhiri tugasnya sebagai anggota legislatif. Rakhmat Nopliardy menambahkan, kepengurusan PAN sendiri juga telah dibentuk tim pemenangan sendiri, selain yang dibentuk oleh tim dari koalisi, dan tim ini dinamakan Tim Pemenangan SBY-Boediono. Bahkan, Rakhmat Nopliardy menegaskan, kalau di Kalsel tidak ada pengurus yang berbeda dukungan. Artinya, semua pengurus DPW dan DPD PAN se Kalsel tidak berpaling terhadap capres SBY-Boediono. “Yang mana koalisi permanen juga sudah dilakukan oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) , Partai Persatuan Pembangunan (PPP), serta Partai Keadilan Sejahtera (PKS),’’ ujar Rakhmat Nopliardy. Sedangkan mengenai kader PAN, seperti Drajad Wibowo dan Alvin Lie, malah menyatakan dukungannya kepada pasangan JK-Wiranto. Rakhmat menerangkan, keduanya bukan anggota resmi JK-Wiranto meskipun jurkam. “Tetapi juga bukan tim sukses, melainkan mendukung secara pribadi saja,’’ tambah anggota DPRD Kalsel ini. Rakhmat Nopliardy juga mempersilakan anggota PAN memiliki hak untuk mendukung siapa saja, asalkan bukan dari pengurus maupun kepengurusan PAN. “Jika terjadi pembelotan, tentu akan dikenakan sanksi, yang sepenuhnya diserahkan kepada partai,’’ jelas Rakhmat Nopliardy. (lyn)

Sumber: